Di Keheningan Ini…

July 25, 2008

Dear Langit Merah,

Biar kuredam semuanya dalam hening. Dalam sepi di malam hari ketika kulewati dengan berselimut basah embun dan tangisku sendiri. Aku tak ingin dengar lagi suara-suara. Aku tak ingin dengar gema yang menyelusup untuk bicara tentang hal-hal yang mereka pikir mereka tahu.

Langit Merah, hanya kau yang akan jadi saksi pertentangan-pertentangan suara hatiku sendiri. Ini tentang hatiku, ini tentang rasaku. Siapa lagi yang akan memahaminya jika bukan aku. Rasa dan hati milikku…ingin berlabuh di keheningan ini…biar di luar sana riuh tak terkatakan…aku akan lelap di sini…………………….bersamamu, Langit Merah…

Salam,

Smaradhana

Bentangan Dimensi

July 21, 2008

Dear Langit Merah,

Bisakah engkau bentangkan untukku sebuah dimensi ruang hanya untuk diriku sendiri. Sebuah ranah yang hanya aku mampu menjamah. Sebuah ceruk yang hanya aku bisa dengan bebas memasukinya. Sebuah liang tempatku meletakkan air mata.

Bentangkan sejenak, aku akan bervibrasi menembusnya. Biar keranjang yang penuh dengan ketidakmengertianku akan putaran dunia kutinggal di dimensi ini. Lalu, aku telanjang, tanpa sangka dan bebas nilai melangkah ringan pada bentangan dimensi itu. Menanggalkan semua gelagapan langkahku. Membuka kembali cericau dari mulutku yang selalu ingin bungkam di dimensi ini. Menjangkau lebarnya langkah dalam dimensiku…dimensi Smaradhana.

Di sana..aku genggam engkau dan pelangi…untuk kumiliki sendiri…

Salam

Smaradhana

Seperti…

July 20, 2008

Dear Langit Merah,

Seperti kerikil yang menggeratak kaki. Perih, namun itu jalan yang telah terbentang.

Dan semakin membara ketika se BIG MAC kecewa itu berbaur dengan kepongahan hidup yang tak juga tunduk pada matahari. yah..seperti butir-butir pasir di tepi pantai yang selalu basah oleh luka…lalu seperti angin yang ingin berhenti berhembus….hingga menguap seperti air di daun yang telah kerontang…

seperti..dan hanya bisa berkata seperti…karena semua ini nisbi…

Salam,

Smaradhana

Sendiri…

July 4, 2008

Dear Langit Merah,

Kita lahir ke dunia ini dalam sebuah perjuangan napas sendiri lalu kematian pun akan membawa kita melalui kesendirian, dengan segala beban yang kita tanggung. Dan jika saat ini hidup harus dilalui sendiri…..apakah sudah menjadi galibnya?

Kuterima kesendirian dan sunyi ini dan kupecahkan segala yang mengiringi dalam pertimbangan sendiri….

hanya aku dan Tuhanku….

Salam

Smaradhana

Jejak Langkah

July 3, 2008

Dear Langit Merah,

Pernahkah suatu kira aku akan ada di jejak ini? Rasanya tak pernah terbayangkan. Sebuah langkah yang sangat jauh dari angan. Dan sekarang bukan hanya jauh, tapi justru menerjang menjadi kenyataan. Aku jadi berpikir, bagaimana satu moment kecil yang terjadi dalam hidup kita membawa sejuta perubahan yang harus mengiringi.

Gamang sesekali menghadapinya. Tapi gamang mungkin bagian dari kemantapan. Tak ada kemantapan tanpa kegamangan. Dan bukan berarti dalam kemantapan tak ada kegamangan. Mereka saling berdialektis, thesis dan anti thesisnya. Terus ada, selama ini bernama kehidupan.

Jejak Langkah..di sini, akankah menjadi ukiran indah yang mengiringi sepanjang zaman ataukah hanya menjadi sebuah sejarah yang hanya untuk dikenang? Pada batu aku bertanya, pada angin aku berbisik, menyampaikan resah yang tak juga terjawab, menggantungkan gamang yang tak henti berloncatan…

Salam,

Smaradhana

Pada Sebuah Jawaban

June 8, 2008

Dear Langit Merah…

Apa kabarmu di sana? Masihkah jingga ronamu?

Hari-hari pekat di sini. Simpanlah segala jinggamu, agar bisa kurasai di akhir nanti. Ketika hanya ada aku dan diriku saja.

Di titik emosi ini, di sebuah momentum yang ingin aku nikmati sendiri saja, pada dirimulah aku selalu memeluk. Mengupas semuanya hingga ke nukleus yang tak tersampaikan lewat sekilas kata ataupun ungkapan. Rasakan degupku untuk yang satu ini, Langit Merah…

Dulu aku selalu menganggap cinta adalah sebuah jawaban. Dimana semua persoalan bisa diselesaikan, dimana semua beda bisa diarsir dengan lembutnya. Dan pada cintalah semuanya berpulang. Menggenggam indahnya hingga urat nadi. Namun sekarang, salahkah aku jika tak lagi mempunyai percaya pada hal itu. Kepercayaanku pada cinta luruh…………melambung jauh dari permukaan yang coba kusemai menuju lembah tak berujung dan gelap.

Mana jawaban itu? Mana jawaban yang ditawarkan oleh cinta? Dia hanya menunjukkan jalan berliku, bukan sebuah pencerahan. Apa? Kau bilang aku harus tengok hatiku sendiri? Ah, Langit Merah..Kau tahu bukan terbuat dari apa hati ini, dan bagaimana bentuknya. Dia sudah tak berbentuk lagi, hancur dan tak mengandung sebuah kata yang kau agung-agungkan: harapan.

Hati ini hanya menjalani. Dan kali ini…dia ada di jalan tak henti likunya. Lalu dimana cinta? Dia hanya membiru di ujung sana………………….mana jawaban itu?

Terlalu pekakkah telingaku mendengar bisikannya? Atau aku sudah terlalu banyak berdamai pada diriku sendiri…sehingga hanya diriku yang bisa kudengarkan. Sementara suara cinta di sana…lenyap..membiru dan tertiup angin. Hanya sebegitukah gemanya?

Jadi, pada siapa aku labuhkan lara? pada cinta yang terus saja mengering untuk dirinya sendiri atau hanya pada seonggok daging yang tak lagi bisa disebut hati?

Dan jawaban………………………………………………tak juga kutemui hingga kini……………………………….

Salam,

Smaradhana

note: menjalani…tak sama dengan merasakan…

Lengkung Jalan

June 1, 2008

Dear Langit Merah,

Pada lengkung jalan ini aku bergetar. Mencoba merunut waktu-waktu yang akan kuhadapi di depan. Mengapa aku justru melihatnya sebagai sebagai sesuatu yang sangat berat, ketimbang sebuah rona-rona bahagia?

Pada lengkung jalan ini aku menyudut dan menepi, mencari jawaban atas semua ini. Tak ubahnya kucing kecil yang takut air hujan menderas di luar sana. Aku hanya mengkerut dan menegarkan diri sembari lelehan air melanda mataku.

Pada lengkung jalan ini aku ingin bertanya pada semua janji. Akankah terwujud?

Pada lengkung jalan ini, mengapa makin sedikit senyum itu?

Salam,

Smaradhana

Dear Langit Merah…

Mungkin kau tak setuju jika kubilang hidup ini sempurna. Kau pasti akan berkata bahwa tak ada kesempurnaan kecuali Sang Khalik. Ah, Langit Merah…hidup ini sudah sempurna…apa adanya. Dengan segala geliat, lipatan dan deburannya. Inilah kesempurnaan hidup. Berkutat pada kekurangan dan kelebihan, yang tertakar seimbang. Inilah kesempurnaannya.

Kadang ia berjalan seperti yang kita inginkan, dan kadang ia berbelok dengan kemisteriusannya. Mengimbangi kanan yang selalu kita harapkan dengan kiri yang tetap datang meski kita merasa bukan waktunya. Lalu, kita menerima keduanya….sempurna bukan?

Kesempurnaan hidup ini adalah sebuah timbangan. Ketika senang dan sedih mampu kita rasakan. Ketika tawa dan air mata datang menghampiri. Ketika bahak dan isak ikut mengiringi. Inilah kesempurnaan.

Dan ketika langkah kita menemukan kejutan-kejutan kecil, kebetulan-kebetulan yang mengagetkan, ini juga bagian dari kesempurnaan. Karena pada kejutan itulah, pada kebetulan itulah hidup kita terjalin. Kejutan dan kebetulan adalah sebuah rangkaian kesempurnaan hidup yang harus dipenuhi agar hidup lengkap dan merepih pada jalannya.

Inilah hidup, Langit Merah….sempurna apa adanya………..

Salam,

Smaradhana

note: sebuah hadiah kecil untukku tiba dua hari lalu, Langit Merah…dan ini bagian dari kesempurnaan jalan hidupku..dengan segala perih dan bahagianya…

Dear Langit Merah,

Aku menyadari satu hal. Hidup itu tak lain adalah selalu mencari labuhan kecil untuk mimpi-mimpi kita. Hidup adalah tentang berhasrat dan memenuhinya. Hidup adalah keinginan dan kepasrahan. Kita adalah perahu-perahu kecil yang terus mengembang layar.

Aku juga adalah sebuah perahu. Kecil dengan layar yang selalu setengah mati kukembangkan. Ketika angin bertiup, lajulah ia. Namun ketika kumpulan udara itu tak lagi sedang ingin berhembus, berdiamlah ia pada riak-riak kecil yang menggoyang bagian bawah kapal dengan lembutnya.

Di samudera luas itu, dengan birunya yang menyenangkan, dengan terbit dan tenggelamnya matahari di batas horison sana, dengan camar-camar yang memekik, dengan bulan yang menghangatkan, dengan bintang yang menjadi penunjuk arah, perahu itu mencari dermaganya.

Di lunasnya tersimpan selaksa mimpi yang terkubur, untuk kemudian dibongkar kembali pada dermaga. Pada sebuah dermaga yang hanya dimiliki oleh sang perahu. Mimpi-mimpi itu bertebaran tak karuan, dan dermagalah yang akan menyusunnya kembali. Merapalkan sebuah mantera cinta dan merangkainya, bagian demi bagian. Mimpi sang perahu adalah mimpi sang dermaga. Dan begitu juga sebaliknya.

Perahuku telah menemukan dermaganya. Lapang dan berpasir putih. Rindangnya nyiur dan sepoi angin membuat dermaga itu menawarkan sejuk. Di sana akan aku bangun mimpi-mimpi yang bertebaran pada tiap sudut perahu. Mimpi-mimpi yang bertumpuk pada setiap perjalanan dan kayuhan dayung. Dan ketika dermaga memelukku dengan kasihnya, inilah salah satu mimpi yang mencuat ketika perahu terkembang.

Pada dermaga sunyi yang menjadi labuhanku….perahu ini telah tertambat. Lembut dan menyerah pada pantaimu. Namun, ijinkan aku kembali mengejar mimpi di samudera luas sana. Untuk kukumpulkan dan kita rangkai bersama. Ijinkan perahu kecil ini menaklukan gelombang di sana. Bersama dengan doadan cinta yang kau titipkan di setiap rongga dadaku. Sebelum aku akhirnya kembali dan menyurut pada lingkup pelukmu dan merenta pada damaimu.

Tunggu..tunggulah sejenak lagi..

Salam

Smaradhana

tangis bahagia?

April 28, 2008

Dear Langit Merah..

adakah tangis bahagia? atau cuma sekadar buaian saja?

jika tangis ini mestinya bahagia…tetapi kenapa justru perih yang kurasa…

salam,

Smaradhana