Sendiri…
July 4, 2008
Dear Langit Merah,
Kita lahir ke dunia ini dalam sebuah perjuangan napas sendiri lalu kematian pun akan membawa kita melalui kesendirian, dengan segala beban yang kita tanggung. Dan jika saat ini hidup harus dilalui sendiri…..apakah sudah menjadi galibnya?
Kuterima kesendirian dan sunyi ini dan kupecahkan segala yang mengiringi dalam pertimbangan sendiri….
hanya aku dan Tuhanku….
Salam
Smaradhana
Jejak Langkah
July 3, 2008
Dear Langit Merah,
Pernahkah suatu kira aku akan ada di jejak ini? Rasanya tak pernah terbayangkan. Sebuah langkah yang sangat jauh dari angan. Dan sekarang bukan hanya jauh, tapi justru menerjang menjadi kenyataan. Aku jadi berpikir, bagaimana satu moment kecil yang terjadi dalam hidup kita membawa sejuta perubahan yang harus mengiringi.
Gamang sesekali menghadapinya. Tapi gamang mungkin bagian dari kemantapan. Tak ada kemantapan tanpa kegamangan. Dan bukan berarti dalam kemantapan tak ada kegamangan. Mereka saling berdialektis, thesis dan anti thesisnya. Terus ada, selama ini bernama kehidupan.
Jejak Langkah..di sini, akankah menjadi ukiran indah yang mengiringi sepanjang zaman ataukah hanya menjadi sebuah sejarah yang hanya untuk dikenang? Pada batu aku bertanya, pada angin aku berbisik, menyampaikan resah yang tak juga terjawab, menggantungkan gamang yang tak henti berloncatan…
Salam,
Smaradhana
Pada Sebuah Jawaban
June 8, 2008
Dear Langit Merah…
Apa kabarmu di sana? Masihkah jingga ronamu?
Hari-hari pekat di sini. Simpanlah segala jinggamu, agar bisa kurasai di akhir nanti. Ketika hanya ada aku dan diriku saja.
Di titik emosi ini, di sebuah momentum yang ingin aku nikmati sendiri saja, pada dirimulah aku selalu memeluk. Mengupas semuanya hingga ke nukleus yang tak tersampaikan lewat sekilas kata ataupun ungkapan. Rasakan degupku untuk yang satu ini, Langit Merah…
Dulu aku selalu menganggap cinta adalah sebuah jawaban. Dimana semua persoalan bisa diselesaikan, dimana semua beda bisa diarsir dengan lembutnya. Dan pada cintalah semuanya berpulang. Menggenggam indahnya hingga urat nadi. Namun sekarang, salahkah aku jika tak lagi mempunyai percaya pada hal itu. Kepercayaanku pada cinta luruh…………melambung jauh dari permukaan yang coba kusemai menuju lembah tak berujung dan gelap.
Mana jawaban itu? Mana jawaban yang ditawarkan oleh cinta? Dia hanya menunjukkan jalan berliku, bukan sebuah pencerahan. Apa? Kau bilang aku harus tengok hatiku sendiri? Ah, Langit Merah..Kau tahu bukan terbuat dari apa hati ini, dan bagaimana bentuknya. Dia sudah tak berbentuk lagi, hancur dan tak mengandung sebuah kata yang kau agung-agungkan: harapan.
Hati ini hanya menjalani. Dan kali ini…dia ada di jalan tak henti likunya. Lalu dimana cinta? Dia hanya membiru di ujung sana………………….mana jawaban itu?
Terlalu pekakkah telingaku mendengar bisikannya? Atau aku sudah terlalu banyak berdamai pada diriku sendiri…sehingga hanya diriku yang bisa kudengarkan. Sementara suara cinta di sana…lenyap..membiru dan tertiup angin. Hanya sebegitukah gemanya?
Jadi, pada siapa aku labuhkan lara? pada cinta yang terus saja mengering untuk dirinya sendiri atau hanya pada seonggok daging yang tak lagi bisa disebut hati?
Dan jawaban………………………………………………tak juga kutemui hingga kini……………………………….
Salam,
Smaradhana
note: menjalani…tak sama dengan merasakan…
Sempurna, Apa Adanya…
May 28, 2008
Dear Langit Merah…
Mungkin kau tak setuju jika kubilang hidup ini sempurna. Kau pasti akan berkata bahwa tak ada kesempurnaan kecuali Sang Khalik. Ah, Langit Merah…hidup ini sudah sempurna…apa adanya. Dengan segala geliat, lipatan dan deburannya. Inilah kesempurnaan hidup. Berkutat pada kekurangan dan kelebihan, yang tertakar seimbang. Inilah kesempurnaannya.
Kadang ia berjalan seperti yang kita inginkan, dan kadang ia berbelok dengan kemisteriusannya. Mengimbangi kanan yang selalu kita harapkan dengan kiri yang tetap datang meski kita merasa bukan waktunya. Lalu, kita menerima keduanya….sempurna bukan?
Kesempurnaan hidup ini adalah sebuah timbangan. Ketika senang dan sedih mampu kita rasakan. Ketika tawa dan air mata datang menghampiri. Ketika bahak dan isak ikut mengiringi. Inilah kesempurnaan.
Dan ketika langkah kita menemukan kejutan-kejutan kecil, kebetulan-kebetulan yang mengagetkan, ini juga bagian dari kesempurnaan. Karena pada kejutan itulah, pada kebetulan itulah hidup kita terjalin. Kejutan dan kebetulan adalah sebuah rangkaian kesempurnaan hidup yang harus dipenuhi agar hidup lengkap dan merepih pada jalannya.
Inilah hidup, Langit Merah….sempurna apa adanya………..
Salam,
Smaradhana
note: sebuah hadiah kecil untukku tiba dua hari lalu, Langit Merah…dan ini bagian dari kesempurnaan jalan hidupku..dengan segala perih dan bahagianya…
tangis bahagia?
April 28, 2008
Dear Langit Merah..
adakah tangis bahagia? atau cuma sekadar buaian saja?
jika tangis ini mestinya bahagia…tetapi kenapa justru perih yang kurasa…
salam,
Smaradhana
